KETIKA SEKULERISME DAN TAKFIRI BEKERJA SAMA

5 Sep 2013

Sebenarnya saya malas untuk menulis artikel ini, artikel tentang politik. Jujur saya kurang suka dengan politik. Namun hati dan pikiran saya yang memerintahkan jari saya untuk menulisnya. Beberapa hari yang lalu seorang ayah yang baik mengeluh kepada saya tentang pendidikan anaknya di pondok.
Jujur pak Munif, saya hanya ingin putra saya memahami agama Islam dan menjadi orang yang baik, karena itu saya rela berpisah dengan putra tersayang saya untuk saya pondokkan di luar kota. Tapi tiba-tiba ceritanya lain. Anak saya mengalami kekerasan fisik di pondoknya, yang dilakukan oleh kakak-kakak kelasnya yang bertindak sebagai kelompok keamanan. Hampir setiap hari anak saya disalahkan bahkan dipukuli. Mulanya anak saya tidak berani bercerita kepada saya, namun mungkin dia sudah tidak tahan lagi, dia lapor kepada saya. Ketika saya klarifikasi kepada ustadnya, ternyata ustadnya malah membela kelompok keamanan tersebut dan bahkan juga menyalahkan anak saya. Dan tidak hanya itu anak saya dicuci otaknya agar mempunyai pendirian mengkafirkan semua orang yang tidak sama pemahaman agamanya dengan aliran pondok tersebut. Termasuk saya, orangtuanya, kata anak saya sudah mendekati kekafiran. Sedih sekali saya. Saya ingin pindahkan segera anak saya dari pondok penjara seperti itu.
Saya hanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan keputusannya. Sehebat apapun, selengkap apapun fasilitasnya, jika sekolah sudah seperti itu, maka cepat-cepat keluarkan anak kita dari tempat itu. Sekolah seperti itu akan merusak pola pikir dan kepribadian anak kita. Sekolah itu akan menghasilkan lulusan-lulusan yang saat ini populer dengan sebutan TAKFIRI atau Islam garis keras, yaitu yang selalu mengkafirkan orang lain ketika ada pemahaman agama, termasuk sekelumit fiqih yang berbeda. Dan perkembangan TAKFIRI saat ini tambah dahsyat yaitu memerangi orang yang dianggap berbeda.

Namun ada momen lain yang akhirnya berhubungan dengan cerita seorang ayah tersebut.
Saya barusan mengikuti semacam konferensi pendidikan tingkat dunia, singkatnya semua peserta sepakat dengan laporan yang cukup mengagetkan. Laporan tersebut adalah ternyata kualitas pendidikan dan kualitas manusia di negara yang mempunyai mahzab sekulerisme di belahan dunia ini menunjukkan penurunan yang tajam. Mahzab pendidikan Sekularisme adalah yang menjadikan pendidikan agama wajib dipisahkan dengan pendidikan umum. Bahkan pendidikan agama tidak perlu diajarkan di sekolah sebab hal itu adalah urusan pribadi. Setiap materi dari pelajaran apapun tidak ada hubungannya dengan agama dan akhlak. Dari laporan tersebut negara itu melahirkan generasi yang secara kognitif pandai namun secara akhlak berantakan. Apalagi akhlak yang berkaitan dengan kehidupan beragamanya. Kita semua tahu, negara dengan mahzab pendidikan sekularisme dipelopori oleh Amerika Serikat. Saya punya banyak teman di Amerika, terutama teman-teman guru. Mereka juga gelisah terhadap keringnya pendidikan di Amerika dari aura pendekatan agama. Beberapa pendidik dari organisasi gereja dan sekolah-sekolah Islam di Amerika mencoba mengatasi masalah ini dengan mulai memasukkan unsur-unsur keindahan dan ilmu pengetahuan dari agama untuk diintegrasikan dengan semua materi pelajaran.

Jadi ada dua momen yang terus membuat saya gelisah yaitu TAKFIRI dan SEKULERISME. Alangkah kagetnya ketika membaca surat kabar hari ini dengan headline: AS Latih Islam Garis keras. Wow dua hal yang saya takutkan sekarang bertemu dan bekerja sama saling bahu membahu. Jika boleh saya tambahkan judul koran tersebut adalah sebagai berikut: AS LATIH ISLAM GARIS KERAS UNTUK MEMERANGI KEMANUSIAAN. Saya sepakat AS adalah oknum sistem politik, bukan perorangan. Saya juga yakin ISLAM GARIS KERAS adalah oknum sistem politik, bukan juga perorangan.
Ketika pikiran saya kembali ke dunia pendidikan, dengan melihat momen-momen mengkhawatirkan di atas, ingin rasanya mewarnai setiap materi pelajaran dengan ruh agama. Ingin rasanya menyelimuti setiap materi pelajaran dengan sikap menghargai orang lain yang berbeda. Pengin rasanya … semoga Allah meneteskan waktuNya kepada saya untuk mulai bekerja.
Sumber : FB Satrio Arismunandar by Munif Chatib


TAGS oendidikan sekuler


-

Author

Follow Me